Minggu, 30 Januari 2011

Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan

Pembahasan tentang Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan (EYD) : sejarah dan penerapan kaidahnya. Pergantian ejaan tersebut yang dimulai pada awal abad ke-20

Ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan tahun 1972 hingga perkembangan dan penggunaannya pada masa sekarang. Setelah memahami kaidah ejaan bahasa Indonesia tersebut, kaidah ejaan tersebut perlu dikuasai, diterapkan, dan digunakan dalam setiap karangan yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia

A. Sejarah perkembangan ejaan bahasa Indonesia
Ejaan merupakan seperangkat aturan yang dibuat untuk dipedomani dalam memindahkan bahasa lisan suatu masyarakat menjadi bahasa tulis. Dengan demikian, jika ejaan tersebut belum mapan dan masih memiliki kekurangan-kekurangan atau keterbatasan-keterbatasan dalam pemindahan bahasa lisan ke dalam bahasa tulis, maka ejaan yang sudah ada akan mengalami perubahan yang sesuai dengan tuntutan zaman masyarakatnya. Ejaan suatu bahasa keperluan penggandaan grafem atau huruf-huruf dan penanda-penanda yang terdapat dalam mesin tulis perlu diperhitungkan dalam penata ejaan.
Ejaaan bahasa Indonesia bahasa peril dibakukan untuk meningkatkan eksistensi ragam bahasa Indonesia baku. Ejaan merupakan aspek yang harus dibakukan selain pembakuan tata istilah, pembakuan tata bahasa yakni sintaksis dan morfologi, serta pembakuan ujaran atau ucapan bahasa Indonesia.
Pembakuan bahasa Indonesia sebagai bahasa ujar non teknis prioritas terakhir bukan Karena tidak penting. Bahasa Indonesia merupakan bahasa bahasa kedua kebanyakan orang Indonesia, dan bukan sebagai bahasa ibu.
1. Ejaan van ophuysen
Ejaan ini adalah ejaan bahasa melayu dengan huruf latin ditetapkan tahun 1901 berdasarkan rancangan ch.A. van ophuysen dengan bantuan engku nawawi gelar soetan ma’moer dan moehammad taib soetan ibrahim
2. Ejaan soewandi
Ejaan ini disusun dengan maksud untuk membuat ejaan yang berlaku menjadi lebih sederhana pada masa menteri pengajaran, pendidikan dan kebudayaan, soewandi. Ejaan ini mendapat tanggapan baik oleh masyarakat dan lebih dikenal dengan ejaan republik
3. Ejaan Pembaharuan
Berangkat dari gagasan perbaikan ejaan pada masa kongres bahasa Indonesia kedua di medan, pada tahun 1956 disusun ejaan pembaharuan. Ejaan ini belum berhasil untuk ditetapkan
4. Ejaan melindo
Ejaan melindo (melayu-indonesia ) dimulai pada tahun 1959. oleh karena perkembangan politik yang cukup lama berakibat tidak dapat diresmikan
5. Ejaan lembaga bahasa dan kesusasteraan
Ejaan lebaga bahasa dan kesusasteraan (ejaan LBK) dimulai pada tahun 1966. ejaan ini yang merupakan cikal bakal untuk terwujudnya ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan
Kaidah-kaidah ejaan seperti ; penggunaan huruf besar, huruf miring, penulisan kata, penggunaan tanda baca akan dikhususkan untuk ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan saja.


B. Penerapan kaidah ejaan bahasa indoneisa yang disempurnakan
Masyarakat terdidik sangat sering menggunakan bahasa Indonesia ragam tulis. Dalam berbagai aktiitas, siswa, mahasiswa pegawai, guru, dosen, pengacara, pejabat eksekutif.
Pada umumnya, banyak kalangan yang selalu mengatakan menulis itu sulit

Perhatikan huruf kapital
1. Pemakaian huruf kapital
Dalam EYD bahasa Indonesia, huruf kapital digunakan untuk beberapa hal berikut
a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat
b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama ketikan langsung
c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk tuhan
d. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan dan keagamaan yang diikuti nama orang
e. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsure nama jabatan
2. Pemakaian huruf miring
a. huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan
b. huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata

3. Penulisan Kata Dasar
Dalam EYD bahasa Indonesia, kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan
Contoh penulisan yang benar
Objek penelitian ini adalah frasa nomina bahasa Indonesia

Contoh penulisan yang salah
Objek penelitian ini adalah frasanomina bahasa Indonesia

4. Penulisan kata turunan
Dalam EYD bahasa Indonesia, penulisan kata turunan diatus sebagai berikut

a. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran ) ditulis serangkai dengan kata dasarnya
b. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau kahiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya
c. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus
d. Jika salah satu unsure gabungan kata hanya diapakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai

5. Penulisan Bentuk Khusus
Dalam EYD bahasa Indonesia, penulisan bentuk ulang diatus sebagai berikut. Ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung .
6. Penulisan gabungan kerja
Dalam EYD bahasa Indonesia, penulisan gabungan kata diatur sebagai berikut
a. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah seperti duta besar, orang tua, kambing hitam, persegi panjang
b. Gabungan kata termasuk istilah khusus yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian
c. Gabungan kata berikut ditulis serangkai
7. Penulisan kata ganti -ku, -kau,- mu, dan -nya
Dalam EYD bahasa Indonesia. Penulisan kata ganti diatus sebagai berikut. Kata ganti ku dan kau ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya .
8. Penulisan kata depan di, ke, dan dari
Dalam EYD bahasa Indonesia, penulisan kata depan diatur sebagai berikut. Kata depan di, ked an dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya
9. Penulisan kata si dan sang
dalam EYD bahasa Indonesia, penulisan kata si dan sang diatur sebagai berikut. Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya
10. Penulisan partikel
Dalam EYD bahasa Indonesia penulisan artikel diatur sebagai berikut
a. partikel –lah,-kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya
b. partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya
c. partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikuti


11. Penulisan singkatan dan akronim
Dalam EYD bahasa Indonesia, penulis singkatan dan akronim diatur sebagai berikut
a. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih
b. Ketetanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik
c. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah , apartemen, atau kamar pada alamat
d. Angka digunakan juga untuk melambangkan menomori bagian karangan dan ayat kitab suci
12. Penulisan angka dan lambing bilangan
Dalam EYD bahasa Indonesia, penulisan angka dan bilangan diatur sebagai berikut : a) angka dipakai untuk menyatakan lambing bilangan atau nomor, b) angka digunakan untuk menyatakan (i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (iii) nilai uang, dan (iv) kuantitas (c). angka lazim diakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah
13. Pemakain tanda titik (.)
dalam EYD bahasa Indonesia, pemakaian tanda titik (.) diatur
a. tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan
b. tanda titik diapakai dibelakang angka atau huruf dalambagian, ikhtisar,atau daftar
14. Pemakaian tanda koma (,)
a. tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan
b. tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan
c. tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat
15. Pemakaian tanda titik koma
a. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian kalimat yang sejenis dan setara
b. Tanda titik koma dapat diapakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara didalam kalimat majemuk
16. Pemakaian tanda titik dua
a. tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemberian
b. tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemberian
c. tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan
17. Pemakaian tanda hubung (-)
Dalam EYD bahasa indonesia, pemakaian tanda hubung (-) diatur sebagai berikut
a. tanda hubung menyambung susku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris
b. tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata dibelakangnya atau akhiran dengan bagian kata didepannya pada penggantian baris.
c. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsure bahasa Indonesia dengan unsure bahasa asing
18. Pemakaian tanda pisah (--)
a. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan diluar bangun kalimat
b. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas
c. Tanda pisah dipakai diantara dua bilanganm tanggal atau dengan arti sampai
19. pemakaian tanda ellipsis (….)
a. Tanda ellipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus
b. Tanda ellipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan

20. Pemakaian tanda Tanya (?)
a. tanda Tanya dipakai pada akhir kalimat Tanya
b. tanda Tanya dipakai dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau urang dapat dibuktikan kebenarannya
21. Pemakaian tanda seru (?)
Dalam EYD bahasa Indonesia, tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah
22. Pemakaian tanda kurung ((…))
a. tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan
b. tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan
c. tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan
d. tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan
23. Pemakaian tanda kurung siku ([…])
24. Pemakaian Tanda Petik (“…”)
a. tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain
b. tanda petik mengapit judul syair, karangan atau bab buku yang dipakai dalam kalimat
c. tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus
25. Pemakaian tanda petik tunggal (‘..’)
Dalam EYD bahasa Indonesia, pemakaian tanda petik tunggal (‘..’) diatur sebagai berikut :
a) tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun didalam petikan lain.
b) Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan atau penjelasan kata ungkapan asing (lihat pemakaian tanda kurung)

26. Pemakaian tanda garis miring (/)
a. tanda garis miring dipakai dalamnomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun
b. tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan atau atau tiap
27. Pemakaian tanda penyingkat atau apstrof (‘)
Dalam EYD bahasa Indonesia, tanda penyingkat atau apostrof menujukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun

0 komentar:

Poskan Komentar