Sabtu, 29 Januari 2011

Korpus luteum

download dalam format word : download

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Korpus luteum adalah massa jaringan kuning di dalam ovarium yang dibentuk oleh sebuah folikel yang telah masak dan mengeluarkan ovumnya. Dalam rahim, korpus luteum akan menghasilkan hormon progesteron yang berguna untuk mengatur siklus menstruasi, mengembangkan jaringan payudara, menyiapkan rahim pada waktu kehamilan dan melindungi dari kanker endometrium pada wanita pasca menopause.
Kurpus luteum akan berhenti memproduksi hormon progesteron pada saat ovum tidak dibuahi dan berkembang menjadi korpus albikan. Pada saat ini, lapisan rahim akan meluruh keluar dari rahim.
Beberapa kasus gangguan reproduksi pada dasarnya disebabkan oleh factor hormonal, anatomi kelamin, dan kelainan alat patologi kelamin.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Pengertian corpus
2. Hubungan corpus luteum terhadap pada saat menstruasi
3. Penyebaran, penanganan corpus uterus
4. Uterus ukuran uerus, ligament – ligament uterus, letak uterus
5. Jaringan – jaringan yang memepertahankan poosisi dan letak uterus


1.3 TUJUAN
Adapun tujuandari dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui pengertian corpus
2. Mengetahui hubungan corpus terhadap pada saat menstruasi
3. Untuk mengetahui penyebaran penanganan corpus uterus
4. Mengetahui jaringan yang memepertahankan posisi lengkap letak uterus

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Corpus
Corpus uteri adalah badan rahim yang tidak berfungsi lagi dimana rahim berbentuk seperti bola lampu pijar atau buah pear, mempunyai rongga yang terdiri dari 3 bagian besar.
Korpus luteum adalah massa jaringan kuning di dalam ovarium yang dibentuk oleh sebuah folikel yang telah masak dan mengeluarkan ovumnya. Dalam rahim, korpus luteum akan menghasilkan hormon progesteron yang berguna untuk mengatur siklus menstruasi, mengembangkan jaringan payudara, menyiapkan rahim pada waktu kehamilan dan melindungi dari kanker endometrium pada wanita pasca menopause.

2.2 Hubungan Corpus Luteum Terhadap Pada Saat Menstruasi
Siklus menstruasi terjadi pada manusia dan primata. Sedang pada mamalia lain terjadi siklus estrus. Bedanya, pada siklus menstruasi, jika tidak terjadi pembuahan maka lapisan endometrium pada uterus akan luruh keluar tubuh, sedangkan pada siklus estrus, jika tidak terjadi pembuahan, endomentrium akan direabsorbsi oleh tubuh.
Umumnya siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula setiap 21 hari dan 30 hari) yaitu sebagai berikut : Pada hari 1 sampai hari ke-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada seat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel Graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase estrus.
Korpus luteum menghasilkan progesteron yang dapat mempengaruhi pertumbuhan kelenjar endometrium. Bila tidak ada pembuahan maka korpus luteum berdegenerasi dan mengakibatkan penurunan kadar estrogen dan progesteron. Penurunan kadar hormon ini menyebabkan degenerasi, perdarahan, dan pelepasan dari endometrium. Proses ini disebut haid atau menstruasi. Apabila terdapat pembuahan dalam masa ovulasi, maka korpus luteum tersebut dipertahankan.
Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning (Corpus Luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal, selain itu progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH, akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron berhenti sehingga pemberian nutrisi kepada endometriam terhenti, endometrium menjadi mengering dan selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada hari ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi. Oleh karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk lagi dan terjadilan proses oogenesis kembali.
Fase luteal terjadi sejak hari ke-4 sesudah puncak (hari terakhir rasa licin pada vulva), leher rahim tertutup dengan gumpalan lendir kental yang mencegah sel sperma masuk ke rongga rahim. Korpus luteum dalam indung telur memproduksi estrogen dan progesteron. Bila tidak ada segala bentuk kontak alat kelamin sejak awal titik perubahan hingga awal harl ke-4 sesudah Puncak, maka sel telur tidak mungkin dibuahi dan akan hancur dalam saluran telur (lihat gambar 10).


Gambar 10. Pada hari ke-4 sesudah Puncak, sel telur sudah hancur. Sel-sel sperma tidak dapat memasuki leher rahim. Sekarang stiker-stiker kuning polos atau hijau polos atau simbol = untuk lendir atau simbol garis tebal vertikal berwarna hitam untuk kering dipakai untuk pencatatan. Sel telur tidak ada lagi; perempuan menjadi tidak subur pada masa itu.
Menstruasi menyatakan akhir siklus biasanya 11-16 hari sesudah ovulasi, dan sekaligus sebagai permulaan siklus yang berikutnya. Tidak ada lagi gumpalan lendir pada leher rahim sehingga darah menstruasi dapat mengalir ke luar rahim. Kedua indung telur kembali beristirahat (lihat gambar 11).

Gambar 11. Menstruasi biasanya terjadi 11-16 hari setelah ovulasi.

2.3 Pemicu gangguan pada ovarium setelah pelepasan dari endometrium
Kanker adalah suatu masalah, terutama jika dialami oleh seorang wanita yang sementara hamil, apalagi jika kehamilan tersebut sangat diharapkan Walaupun kanker merupakan penyebab kedua terbanyak penyebab kematian pada usia reproduktif, namun angka kejadian kanker pada wanita hamil relatif jarang ditemukan.
Penanganan diagnostik dan terapeutik terhadap wanita hamil sangat sulit dan diperlukan suatu kehati-hatian mengingat menyangkut dua jiwa, ibu dan janin yang dikandungnya.
Kanker ovarium merupakan salah satu kasus keganasan ginekologik terbanyak yang ditemukan pada wanita hamil setelah kanker serviks dan kanker payudara. Kurang lebih 1 diantara 1000 kehamilan terdeteksi adanya tumor ovarium. Walaupun demikian, kebanyakan massa adneksa yang terdeteksi selama kehamilan bersifat jinak dan dapat mengecil dengan sendirinya pada trisemester kedua.
Berdasarkan beberapa data yang ada, mungkin hanya berkisar 3-6% massa adneksa yang terdeteksi selama kehamilan menunjukkan tanda-tanda keganasan. Di Indonesia kanker ovarium sendiri menduduki urutan ke enam terbanyak dari keganasan pada wanita setelah karsinoma serviks uteri, payudara, kolorektal, kulit dan limfoma. Kanker ovarium merupakan tumor ganas ovarium yang dapat dikelompokkan atas 6 kelompok yaitu: epithelial, sel germinal, stromal and sex-cord, sel lipid, sarcoma dan metastasis karsinoma. 4
Sampai saat ini faktor penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti.
Diduga adanya keterkaitan beberapa faktor antara lain: faktor lingkungan, diet, reproduksi, endokrin dan faktor herediter. Prinsip penanganan kanker ovarium pada wanita hamil sama halnya dengan wanita tidak hamil. Prognosisnya juga tampaknya tidak jauh berbeda pada wanita yang hamil maupun tidak hamil.



Terkait dengan fungsi sekretorik, ovarium membentuk hormon estrogen, progesteron dan sedikit andeogen. Estrogen secara umum berfungsi untuk peningkatan sintesis protein. Terhadap endometrium, esterogen berfungsi memicu proliferasi dan memperkuat kontraksi otot uterus. Terhadap serviks, esterogen meningkatkan sekresi getah serviks dan mengubah konsentrasinya pada saat ovulasi menjadi encer dan bening sehingga memudahkan penyesuaian dan memperlancar perjalanan spermatozoa. Terhadap vagina, estrogen menyebabkan perubahan selaput vagina, meningkatkan produksi getah dan meningkatkan kadar glikogen, sehingga terjadi peningkatan produksi asam laktat oleh bakteri Doderlein. Nilai pH yang rendah memperkecil kemungkinan terjadinya infeksi. Terhadap ovarium sendiri, estrogen berfungsi memicu sintesis reseptor FSH dan LH di sel-sel teka, mengatur kecepatan pengeluaran ovum dan mempersiapkan spermatozoa dalam genitalia wanita agar dapat menembus selubung ovum (proses kapisitasi).
Progesteron secara umum berfungsi mempersiapkan tubuh untuk menerima kehamilan, sehingga merupakan syarat mutlak untuk konsepsi dan implantasi. Semua fungsi progesterone terjadi karena ada pengaruh estradiol sebelumnya, karena estradiol mensintesis reseptor untuk progesteron. Terhadap endometrium, progesterone menyebabkan perubahan sekretorik yang mencapai puncaknya pada hari ke-22 siklus haid normal. Bilamana progesteron terlalu lama memperngaruhi endometrium, maka akan terjadi degenerasi, sehingga tidak cocok lagi untuk menerima nidasi. Terhadap serviks pengaruh progesteron, jumlah getah serviks berkurang dan membentuk jala tebal sehingga merupakan sawar yang tidak dapat dilintasi oleh spermatozoa. Bersamaan dengan itu pula, porsio dan serviks menjadi sangat sempit, getahnya menjadi kental dan daya membenang menghilang. Terhadap miometrium progesterone menurunkan tonus, sehingga kontraksi berjalan lambat. Dalam kehamilan, fungsi ini sangat penting karena membuat uterus menjadi tenang. Progesterone juga menyebabkan peningkatan suhu badan basal segera setelah ovulasi. Hal tersebut terjadi melalui peningkatan sekresi norepinefrin yang timbul sekunder akibat meningkatnya kadar progesteron plasma terhadap pengaruh termogenik pusat pengaturan panas di hipotalamus.
Pengunaan ultrasound (USG) dalam pemeriksaan kehamilan telah banyak membantu dalam mendeteksi adanya massa adneksa pada wanita-wanita hamil, namun kebanyakan massa adneksa yang terdeteksi selama kehamilan bersifat jinak. Estimasi insiden tumor ovarium itu sendiri kurang lebih 1 diantara 1000 kehamilan dan hanya sekitar 3%-6% dari massa adneksa tersebut yang bersifat ganas. Insiden kanker ovarium dalam kehamilan ditemukan kurang lebih 1 : 15.000 hingga 1: 32.000 kehamilan yang ada. Ueda dan Ueki melaporkan dari 106 kasus massa ovarium yang telah direseksi dari wanita hamil, 29% disebabkan oleh pembesaran fisiologis, 66% merupakan tumor jinak dan hanya 5% yang merupakan kanker ovarium.
Menurut Burtness Barbara, insiden tumor jinak yang ditemukan 1 diantara 112 kasus, sedangkan tumor ganas ditemukan 1 diantara 1684 kasus. 2,6,7 Penelitian yang dilakukan oleh Biomed Central, menemukan 603 kasus kanker ovarium selama periode tahun 1991 hingga 2002, 23 kasus diantara dalam masa kehamilan. Rata-rata umur pasien tersebut dari 20-40 tahun. Gambaran histopatologi terbanyak yang ditemukan pada kelompok ini yaitu germ cell tumor sebanyak 11 dari 23 kasus. Kebanyakan kasus kanker ovarium dalam kehamilan didiagnosis pada stadium awal, hal ini sesuai dengan penelitian oleh BMC yaitu 73,9% ditemukan pada stadium awal (stage 1), dan hanya 17,3% yang ditemukan pada stadium lanjut yaitu stadium 3 dan 4.


2.4 Penyebaran dan Penanganan Korpus Uterus
Penyebaran adenokarsinoma endometrium biasanya lambat kecuali pada 63. tumor dengan diferensiasi sel-sel yang tidak baik cendrung menyebar ke permukaan kavum uterus dan endoserniki. Jika telah sampai di endoserviki, penyebaran selanjutnya seperti pada karsinoma serviks uterus. Jika miometrrium telah die bur, penyebaran selanjutnya akan cepat dan umumnya melalui pembuluh getahnya bening sel tumor akan sampai pada kelenjer regional, terutama kelenjer iliak luar dan iliak dalam / pipogastrika lewat kelenjer ligmentum retandum akan sampai di kelenjer limfa inguina dan femoral. Penyebaran retrograde dapat ditemukan dibagian distal vagina. Penyebaran hematogen berjarak jauh tidak umum miometrium merupakan batrier salid. Yang dapat menahan kelenjer proses untuk waktu yang cukup lama.
Untuk penanganan endonetrium dalam garis besar adalah sebagai berikut : TAH ( Total Abbominal Hystereotomy) + BTO ( bilateral talpogo ojhoreutomy). Tindakan ini merupakan pilihan untama untuk kasus tingkat klinik T-15 (145) dan T – 1. kombinasi pembedahan dengan radioterapi sebelum/sesudah pembedahan dlakukan pada ingkat klinik T – 1, t – 2 dan kasus T – 3 yang dinilai msih operable. Penyinaran sebelum operasi akan mengurangi resiko terjadinya rekunens local dan matastasif. Jenis pinyaran, apakah akan diberi aplikasi radium intrakaviten atau penyinaran luar dengan cobalt – 60, ditentukan oleh ginecolog dan radioterapis berdasrkan tinggkat klinik penyekitnya. Hasil pemeriksaan histologis dan besarnaya uterus. Operasi dilakukan 2 – 6 minggu sesudah penyinaran selesai, tergantung dari jenis penyinaran yang diberikan jika yang dipilih aplikasi radium intrakaviter (brathy – therapy) dan ternyata pada pemeriksaan histolodik specimen operasi sel tumor telah mengadakan infilterati melebihi 1/3 tebal miometrium maka penyinaran eksternal (luar) harus ditambahkan. Pada tingkat klinik T – 3 yang dinilai In- operable, hanya dilakkan penyinaran dan pengobatan hormonal progestatif dosis tinggi.
Untuk dapat di pakai medroxy progresteron Acetate (MPA)/provera tablet 2 – 4 tablet @ 100 mg/ hari. Sekarang banyak digunakan megesterol acetate (megace) dengan dosis 160 -320 mg (4 – 8) tablet @ 40 mg/ hari. Juga tamo2xifen dapat digunakan dengan dosis 1 – 2 film coated tablets (Filtotabs) tiap pagi dan sore. Pengobatan hormonal dapat menahan penyebaran sel ganas yang jauh sampai 1 – 4 tahun dalam control lanjutan (folloq-up control). Oleh seab itu pemberian pengobatan hormonal dengan progestatif dosis tinggi, harus diteruskan selama pengobatan hormonal dengan progestatif dosis tinggi, harus diteruskan selama pengobatan masih memberi respons. Sebelum pembedahan (TAH + BS). Pada tingkat klinik apapun bila sitologi cairan peritoncal positif mengandung sel ganas, megate harus diberikan 160 mg/ hari (4 ddtab I @ 40 mg) selama minimal satu tahun. Ada koreksi positif antara respons pengobatan dengan +/- reseptor PR (Prog resteron) pada yang reseptor PRnya positif, respons. Respon pengobatan dapat mencapai 77%.khemoterapi dalam manajemen kanker endometrium masih menenpati tempat yang sangat terbatas, sedang diuji coba beberapa sitostatika tunggal yang nampaknya aktif, ialah : Cis-platin, Arinamisin, Corba – platin dan Cyclophosfamide / Endoksan / Cytoksan.
2.5 Uterus, Ukuran Uterus, Ligament – Ligament dan Letak Uterus
A. Uterus
• Dalam keadaan tidak hamil terdapat dalam ruang pelvis minor di antara vesica urainaria dan rectum
• Permukaan belakang sebagian besar tertutup oleh peritoneum sedangkan permukaan depan hanya di bagian atasnya saja
• Bagian bawah dari permukaan depan depan melekat pada dinding belakang vesica urinaria
• Uterus merupakan alat yang berongga dan berbentuk sebagai bola lampu yang gepeng dan terdiri dri 2 bagian :
a. Corpus uteri berbentuk segitiga
b. Corpus uteri berbentuk silindris
• Bagian dari corpus uteri antara kedua pangkal tuba disebut fudus uteri (dasar rahim)
Pinggir kanan/ kiri tidak tertutup oleh peritoneum karena berbatasan dengan parametrium kanan / kiri.
B. Ukuran uterus
1. Bentuk dan ukuran uterus sangat berbeda - beda tergantung dari pada
• Usia
• pernah melahirkan anak atau belum
pada anak - anak panjangnya uterus: 2 - 3 cm
pada nullipara 1 6 - 8 cm
pada multipara 2 8 - 9 cm
2. Panjangnya corpus uteri terhadap cervix uteri juga berbeda -beda 1
Pada anak - anak, panjangnya corpus uteri à dari pada panjangnya cervix uteri.
Pada gadis remaja, sama panjangnya dengan cervix uteri.
• Cavum uteri (rongga rahim) berbentuk segitiga, lebar di daerah fundus dan sempit ke arah cervix
• Sebelah atas rongga rahim berhubungan dengan saluran telur (tuba Fallopii) dan sebelah bawah dengan saluran leher rahim (canalis servikalis)
• Hubungan antara cavum uteri dan canalis servicalis disebut, ostiumuteri internum, sedangkan muara canalis cervicalis ke dalam vagina disebut, ostium uteri externum.
 Lapisan dalam
Merupakan serabut - serabut otot yang berfungsi sebagai sphincter terletak pada ostium internum tubae dan orificium uteri internum.
 Lapisan tengah
Terletak antara ke dua lapisan di atas, merupakan anyaman serabut otot yang tebal ditembus oleh pembuluh - pembuluh darah, jadi dinding uterus terutama di bentuk oleh lapisan tengah ini.
Masing - masing serabut mempunyai 2 lengkungan hingga keseluruhannya berbentuk angka 8, dengan struktur seperti ini setelah persalinan serabut-serabut ini berkonstriksi dan menekan pembuluh darah, jadi bekerja sebagai penjepit pembuluh darah.
3. Endometrium (selaput lendir) merupakan lapisan bagian dalam dari corpus uteri yang membatasi cavum uteri. Pada endometrium didapatkan lubang - lubang kecil, merupakan muara - muara dari saluran - saluran kelenjar uterus yang dapat menghasilkan sekret alkalis yang membasahi cavum uteri. Epitel endometrium berbentuk silindris. Tebalnya, susunannya dan faalnya berubah secara siklis karena dipengaruhi oleh hormon - hormon ovarium. Dalam kehamilan endometrium berubah menjadi decidua.
Di bawah pengaruh hormonal maka lapisan mucosa uterus mengalami perubahan - perubahan tertentu hingga cukup baik untuk implantasi dan untuk memberi makanan pada ovum.
Perubahan ini terjadi beberapa hari setelah implantasi ovum, dimana sel - sel jaringan ikat (stroma) dari endometrium membengkak dan sifatnya berubah, selnya jadi bulat dan vesiculer, cytoplasmanya jadi jernih dan sedikit basophil dan dikelilingi membran yang bening.
Selaput lendir cervix mempunyai sifat yang berlainan. Epitelnya terdiri dari sel - sel berbentuk silinder dan mengeluarkan sekret tersebut sangat dipengaruhi oleh hormon - hormon ovarium.
Sikap dan letak uterus di tengah - tengah rongga panggul dipertahankan oleh :
1. Tonus otot sendiri
2. Ligament - ligament dari uterus
3. Otot - otot dasar panggul
C. Ligament – ligament
1. Ligarnentum latum
Berupa lipatan peritaneum sebelah lateral Ka. Ki. Dari pada uterus, melum sampai ke dinding panggul dan dasar panggul, sehingga seolah - olah menggantung pada tubae.
Ruangan antara kedua lembar dari lipatan ini terisi oleh _jaringan yang langgar, disebut 2 parametrium, dimana berjalan arteria, vena uterina, pembuluh lympha dan ureter.
2. Ligamentum Ratundum
Terdapat di bagian atas lateral dari uterus, caudal dari insertie tuba, kedua ligament ini melalui canalis inguinalis ke bagian cranial lab. Majus. Terdiri dari jaringan otot polos (identik dengan myometrium) dan jaringan ikat dan menahan uterus dalam antefleksi. Pada waktu kehamilan mengalami hypertraphie dan dapat diraba dengan pemeriksaan luar.
3. Ligamentum infundibula pelvicum
2 buah kiri kanan dari infundibulum dan ovarium ke dinding panggul. Ligamentum ini menggantungkan uterus pada dinding panggul. Antam sudut tuba dan ovarium terdapat ligamentum avarii praprium.
4. Ligamentum cardinale
Kiri kanan dari cervix setinggi ostium uteri internum ke dinding panggul. Menghalangi pergerakan ke kiri atau ke kanan.
5. Ligamentum sacro uterinum
Kiri kanan dari cervix sebelah belakang ke sacrum mengelilingi rectum.
6. Ligamentum vesica uterinum
Dari uterus ke kandung kencing.




D. Letak uterus
1. Ante dan retrafleksi uteri
Sumbu servix dan sumbu corpus uteri membentuk sudut. Jika sudut ini membuka ke depan, disebut anteflexio, jika membuka ke belakang disebut retroflexio.
2. Ante dan retroversio uteri
Sumbu vagina dan sumbu uterus membentuk sudut. J ika sudut ini membuka ke depan, disebut anteversia, jika membuka ke belakang disebut retroversio.
3. Pasific
Uterus biasanya tidak terletak tepat pada sumbu panggul, bisa lebih ke kiri, lebih ke kanan, lebih ke depan, lebih ke belakang, disebut sinistro, dextro, antero, dorso positia.
4. Torsio
Letak uterus biasanya agak terputar. Pembuluh darah uterus :
1. A. uterina
2. A. Ovarica
a) Tuba uterina fallopii
Alat ini terdapat pada tepi atas Iigamentum latum, berjalan ke arah lateral, mulai dari cornu uteri kanan kiri.
Panjangnya ± 12 cm, diameter 3 - 8 mm.
Pada tuba ini dibedakan 4 bagian :
• Pars interstitialis (intramuralis) 1 bagian tuba yang berjalan dalam dinding uterus, mulai pada ostium internum tubae.
• Pars isthmica : bagian tuba setelah keluar dari dinding uterus, merupakan bagian tuba yang lurus dan sempit
• Pars ampullaris 1 bagian tuba antara pars isthmica dan infundibulum merupakan bagian tuba yang paling lebar dan berbentuk 5.
• Infundibulurn 2 ujung dari tuba dengan umbai - urnbai yang disebut fimbriae, lubangnya disebut ostiurn abdaminale tubae.
Fungsi utama tuba ialah uduk membawa ovum yang dilepaskan
avarium ke jurusan cavum uteri.
b) Ovarium
Ovarium ada 2, kiri dan kanan uterus, dihubungkan dengan uterus oleh lig. Ovarii proprium dan dihubungkan dengan dinding panggul dengan perantaraan lig. Infundibulo - pelvicum, di sini terdapat pembuluh darah untuk ovarium yaitu a di v ovarica
Pada ovarium dibedakan :
 Permukaan medial yang menghadap ke arah cavum douglasi dan permukaan lateral
 Ujung atas yang berdekatan dengan tuba dan ujung bawah yang lebih dekat dengan uterus (extremitas tubaria dan extremilas uterina)
 Pinggir yang menghadap ke muka (marga mesavaricus) melekat pada lembar belakang lig. Lafum dengan perantaraan mesovarium dan pinggir yang menghadap ke belakang (marga liber).
Ovarium ini letaknya pada dinding lateral panggul dalam sebuah lekuk yang disebut fassa ovarica Waldeyeri.
Ovarium terdiri dari bagian luar
Parametrium
Jaringan ikat yang terdapat antara kedua lembar lig. Latum disebut parametriuin Bagian atas lig. Latum yang mengandung tuba disebut rnasosalpinx dan bagian caudalnya yang berhubungan dengan uterus disebut mesornetriurn.
Pada sisi depan lig. Latum berjalan Iig. Teres uteri, pada permukaan belakang Iig. Ovarii proprium. Mesovarium merupakan lipat peritoneum untuk ovarium dan terdapat antara mesasalpinx dan mesometrium.
Lig. Suspensorium ovarii berjalan dari extremitas tubaria avarii ke dinding panggul. Pada parametrium ini berjalan ureter. a di v uterina. Parametrium sebelah bawah yang menyelubungi a à v uterina lebih padat dari _jaringan sekitarnya disebut lig. Cardinale

2.6 Jaringan-Jaringan Yang Memepertahankan Posisi Dan Letak Uterus
A. Otot dasar panggul
1. Terdiri dari diafragma pelvis merupakan penutup bagian bawah dari rongga perut, dan terdiri :
a. Otot levator ani
• Iliokoksigeus
• Pubokoksigeus
• Puborektalis

Leavor ani dalam keadaan normal berfungsi :
• Mengerukkan lumen rectum, vagina, urethra degan cara menariknya ke arah dinding tulang pubis, sehingga organ-organ pelvis di atasnya tidak dapat turun (prolaps)
• Mengimbangkan tekanan intraabdominal dan tekanan atmosfer, sehingga ligament-ligamen tidak perlu bekerja memepertahankan letak organ-organ pelvic di atasnya
• Sebagai sandaran dari uterus, vagina bagian atas, rectum dan kantung kemih. Bila otot-otot levator ani normal, ligamen-ligamen dan fasia tersebut otomatis dalam istirahat atau tidak berfungsi banyak.
b. Otot koksigeus
c. Fasia endopelvik
2. Diagfragma urogenital yang berfungsi menutup hiatus genitalis, dan memberi bantuan pada levator ani untuk memepertahankan organ-organ diatasnya dan juga berfungsi memeberi bantuan pada otot-otot levator ani menahan organ-organ pelvis. Ini terdiri dari fasia yang kuat dengan otot transversa perinea, berjalan antara arkus pubis kanan-kiri.
3. Otot penutup genitalia eksterna.
B. Ligament-ligamen yang terletak dalam rongga perut dan ditutupi oleh peritoneum yaitu :
• Ligamentum latum dan rotundum
• Ligamenttum kardinale dan sakrouterina
• Fasia-fasia yang memepertahankan posisi vagina
C. Kantong Douglas (ekskavasio retrouterina douglasi)
2.7 Posisi Uterus Yang Normal Dalam Rongga Panggul
Posisi uterus yang normal ialah di tengah-tengah rongga panggul, antara kandung kencing dan rectum dengan ostium uteri eksternum setinggi spina iskhiadikapada wanita berdiri. Uterus dapat digerakkan dalam batas-batastertentu. Dari bagian uterus, servikslah yang lebih menunjukanfiksasi, sedang fundus dapat bergerak lebih leluasa.
Dalam buku-buku barat yang dianggap letak uterus normal ialah letak anteversifleksi. Disini fundus uteri mengarah ke depan, hamper hirisontal, dengan mengadakan sudut tumpul antara korpus uteri dan serviks uteri. Serviks uteri mengarah ke belakang bawah, dan mengadakan sudut kurang lebih 90% dengan poros vagina. Menurut buku-buku tersebut, letak retroversifleksi, yakni dengan fundus uteri mengarah ke belakang, terdapat dalam 15 – 20%. Angka-angka di Indonesia menunjukan bahwa terdapat jauh lebih banyak letak retroversifleksi; remmelts menemukan jumlah sebesar 70%. Dengan demikian, pada wanita-wanita di sini retroversifleksi dapat dianggap sebagai letak normal.
2.8 Kelainan Letak Uterus
Posisi seluruh uterus dalam rongga panggul dapat mengalami perubahan. Uterus seluruhnya dapat terdorong ke kanan (dekstroposisio) ke kiri (sinistroposisio), ke depan (anteroposisio), ke belakang (retroposisio) ke atas (elevasio), dan kebawah (desensus). Umunya kelainan posisi disebabkan oleh tumor, yang mendorong uterus ke sebelah yang berlawanan, atau perlekatan yang kuat yang menarik uterus ke sebelah berlawanan, atau perlekatan yang kuat yang menarik uterus ke sebelah yang sama. Pada desensus sebab turunnya uterus biasanya ialah kelemahan otot serta fasia yang menyokongnaya. Jika tidak ada atau hamper tidak ada sudut antara poros uteri dan poros serviks, dinamakan anteversifleksi atau antefleksi dan retroversifleksi; kadang terdapat hiperantefleksi. Selanjutnya dengan serviks yang tetap tinggal pada tempatnya, fundus uteri dapat mengarah ke kanan (desktroversi) atau ke kiri (sinistroversi). Umumnya kelainan-kelainan ini tidak mempunyai arti klinis yang besar.
Seperti lelah dikemukakan, dalam buku-buku barat retroversifleksi umumnya dianggap sebagai keadaan tidak normal yang seringkali membutuhkan terapi. Pembagian yang lazim diadakan ialah antara retroversiofleksio uteri mobilis dan retroversiofleksi uteri fiksata. Menurut pengalaman penulis-penulis di Indonesia, retroversioflekski uteri mobilis malahan merupakan keadaan normal, yang tidak menyebabkan gejala apapun dan tidak memerlukan terapi apaun, kecuali dalam dua hal.
Dam hal pertama, pada retroversiofleksio uteri mobilis kadang-kadang poros serviks uteri demikian mengarah ke depan, sehingga sesudah koitus pada wanita yang berbaring porsio uteri dengan ostium uteri eksternumnya terdapat di atas tempat pengumpulan sperma (seminal poll) dalam vagina bagian atas. Hal ini dapat menyebabkan infertilitas, dan memerlukan terapi. Terapi terbaik ialah operasi suspensi uterus, dengan menarik ligamentum rotundum kanan dan kiri melalui ligamentum latum ke bel;akang korpus uteri dan menghubungakannya di garis tengah (operasi menurut Baldy-Webster). Atau menarik ligamentum rotundum kanan dan kiri melalui lubang pad peritoneum parietale dekat pada annulus inguinalis interna ke luar rongga perut, dan menjahitnya pada fasia rektalis (operasi menurut guilliam).
Dalam hal kedua, jika terjadi kehamilan pada wanita denan retroversifleksi, uterus yang bertumbuh kadan-kadang tidak dapat keluar dari rongga panggul, dan mengadakan tekanan pada uretra, sehingga penderita tidak bisa kencing. Keadaan ini dikenal dengan nama retrifleksio uteri gravidi inkarserata, dan dapat di ketahui dengan adanya kandung kencing terisi penuh di atas simfisis, sedang uterus yang membesar mengisi rongga panggul. Terapi terdiri atas pengeluaran air kencing dengan kateter dan dengan hati-hati mendorong uterus keluar rona panggul. Uterus yang sudah keluar tidak masuk kembali kerongga panggul, jika perlu hal ini dapat dibantu dengan mebaringkan penderita dalam letak trendelendung.
• Retrofleksio uteri fiksata
• Prolapsus genilalia









BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
1. Korpus luteum adalah massa jaringan kuning di dalam ovarium yang dibentuk oleh sebuah folikel yang telah masak dan mengeluarkan ovumnya dalam rahim.
2. Kurpus sangat erat kejadiannya dengan mestruasi dan gangguan pada alat kelamin pada wanita
3. Dewasa ini penentuan tata letak uterus normal dan kelainan dalam letak alat genital bertambah penting artinya diagnosis karena dianosis yang tepat perlu sekali guna penatalaksanaan yang baik sehingga tidak timbul penyakit kembali di kemudian hari.
4. faktor penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. Diduga adanya keterkaitan beberapa faktor antara lain: faktor lingkungan, diet, reproduksi, endokrin dan faktor herediter.

3.2 SARAN
1. Diharapkan ini bisa dijadaikan data perolehan informasi mengenai hal yang berhubungan dengan korpus
2. Menjaga alat repruduksi sejak dini adalah langkah awal yang tepat untuk menghindari kemungkinan resiko di kemudian hari
3. Pada intansi atau badan penyelenggara ilmu pendidikan agar makalah ini dapat menjadi tambahan sumber ilmu
DAFTAR PUSTAKA

http://edu-articles.com/reproduksi-pada-manusia/
http://en.wikipedia.org/wiki/Corpus_luteum
http://id.wikipedia.org/wiki/Korpus_luteum
http://www.lusa.web.id/tag/korpus-luteum/

download dalam format word : download

0 komentar:

Poskan Komentar