Rabu, 02 Maret 2011

ASKEP JANTUNG


download dalam format word : download
askep jantung
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakan kelainan struktural jantung dan atau pembuluh darah besar yang sudah terdapat sejak lahir, walaupun manifestasinya nanti timbul kemudian. Penyakit Jantung Bawaan Sianotik (PJB-Sianotik) adalah salah satu bentuk PJB yang disertai dengan sianosis. Prevalensi PJB diperkirakan 6-10 per 1000 kelahiran hidup dan PJB sianotik diperkirakan 1/3 dariseluruh PJB. Hingga saat ini etiologi PJB belum diketahui dengan pasti, namun umumnya karena faktor herediter, dan faktor lain yang turut berpengaruh terutama pada masa kehamilan ibu misalnya : infeksi rubella, radiasi, obat-obatantertentudanlain-lain. Walapun manifestasi klinis yang penting adalah sianosis tetapi padabeberapakeadaansianosissukardideteksi.
Penyakit jantung kongenital atau penyakit jantung bawaan adalah sekumpulan malformasi struktur jantung atau pembuluh darah besar yang telah ada sejak lahir. Penyakit jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan anak. Apabila tidak dioperasi, kebanyakan akan meninggal waktu bayi. Apabila penyakit jantung bawaan ditemukan pada orang dewasa, hal ini menunjukkan bahwa pasien tersebut mampu melalui seleksi alam, atau telah mengalami tindakan operasi dini pada usia muda.

B. Tujuan Penulisan
Dalam pembutan makalah ini penulis punya tujuannya mengangkat topik ini selain tugas dalam perkulihan Keperawatan Medikal Bedah tapi juga untuk :
1. kita dapat mengetahui apa Pengertia dari Penyaki jantung bawaan
2. kita dapat mengetahui apa saja ciri – ciri penyakit nya
3. kita dapat mengetahui Etiologi/ penyebabnya
4. kita dapat mengetahui Patatogenesis dan cara menagani nya
5. kita dapat melakukan Asuhan keperawtan

BAB II
PEMBAHASAN
KAJIAN TEORITIS
A. DEFENISI
Duktus Penyakit jantung bawaan atau penyakit jantung kongenital atau cacat jantung bawaan adalah kelainan struktur jantung pada saat lahir. Penyakit jantung bawaan merupakan penyakit yang fatal namun seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi pengobatan, kebanyakan pasien penyakit jantung bawaan mampu bertahan dengan baik hingga dewasa.
Arteriosus adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI pada janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens. Pada bayi normal duktus tersebut menutup secara fungsional 10–15 jam setelah lahir dan secara anatomis menjadi ligamentum arteriosum pada usia 2–3 minggu. Bila tidak menutup disebut Duktus Arteriosus Persisten (Persistent Ductus Arteriosus : PDA).
Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta tang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah)
Penyakit jantung kongenital atau penyakit jantung bawaan adalah sekumpulan malformasi struktur jantung atau pembuluh darah besar yang telah ada sejak lahir. Penyakit jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan anak. Apabila tidak dioperasi, kebanyakan akan meninggal waktu bayi. Apabila penyakit jantung bawaan ditemukan pada orang dewasa, hal ini menunjukkan bahwa pasien tersebut mampu melalui seleksi alam, atau telah mengalami tindakan operasi dini pada usia muda. Patent Duktus Arteriosus (PDA) adalah tetap terbukanya duktus arteriosus setelah lahir, yang menyebabkan dialirkannya darah secara langsung dari aorta (tekanan lebih tinggi) ke dalam arteri pulmoner (tekanan lebih rendah).
Penyakit jantung kongenital merupakan penyakit jantung yang terjadi akibat kelainan
dalam perkembangan jantung dan pembuluh darah sehingga dapat mengganggu dalam
fungsi jantung dan sirkulasi darah jantung atau yang dapat mengakibatkan sianosis dan
asianosis. Penyakit jantung kongenital atau penyakit jantung bawaan adalah sekumpulan malformasi struktur jantung atau pembuluh darah besar yang telah ada sejak lahir. Penyakit jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi dan anak. Apabila tidak dioperasi, kebanyakan akan meninggal waktu bayi. Apabila penyakit jantung bawaan ditemukan pada orang dewasa, hal ini menunjukkan bahwa pasien tersebut mampu melalui seleksi alam, atau telah mengalami tindakan operasi dini pada usia muda.
Atrial Septal Defect adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. Kelainan jantung bawaan yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat atrium. Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan pembentukan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venousus di dekat muara vena kava superior, foramen ovale terbuka pada umumnya menutup spontan setelah kelahiran, defek septum sekundum yaitu kegagalan pembentukan septum sekundum dan defek septum primum adalah kegagalan penutupan septum primum yang letaknya dekat sekat antar bilik atau pada bantalan endokard. Macam-macam defek sekat ini harus ditutup dengan tindakan bedah sebelum terjadinya pembalikan aliran darah melalui pintasan ini dari kanan ke kiri sebagai tanda timbulnya sindrome Eisenmenger. Bila sudah terjadi pembalikan aliran darah, maka pembedahan dikontraindikasikan. Tindakan bedah berupa penutupan dengan menjahit langsung dengan jahitan jelujur atau dengan menambal defek dengan sepotong dakron.
Tiga macam variasi yang terdapat pada ASD, yaitu
1. Ostium Primum (ASD 1), letak lubang di bagian bawah septum, mungkin disertai kelainan katupmitral.
2. Ostium Secundum (ASD2), letak lubang ditengah septum.
3. Sinus Venosus Defek, lubang berada diantara Vena Cava Superior dan Atrium Kanan.







B. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan :
Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung bawaa tidak diketahui secara pasti. diduga karena adanya faktor endogen dan eksogen.
•Berbagaijenispenyakitgenetik:kelainankromosom
• Riwayat kehamilan ibu : sebelumnya ikut program KB oral atau suntik,minum obat-obatan tanpa resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine .aminopterin ,amethopterin, jamu)
1. Faktor Prenatal :
 Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella.
 Ibu alkoholisme.
 Umur ibu lebih dari 40 tahun.
 Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin.
 Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu.
2. Faktor Genetik :
 Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
 Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.
 Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
 Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.
Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung bawaa tidak diketahui secara pasti. diduga karena adanya faktor endogen dan eksogen.
• Berbagaijenispenyakitgenetik:kelainankromosom.
• Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantungataukelainanbawaan.
• Riwayat kehamilan ibu : sebelumnya ikut program KB oral atau suntik,minum obat-obatan tanpa resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine .aminopterin ,amethopterin, jamu)
Penyakit jantung bawaan muncul ketika perkembangan organ jantung janin tidak berkembang dengan sempurna ketika bayi masih dalam kandungan. Para peneliti tidak tahu persis apa yang menyebabkan cacat jantung berawal, tetapi mereka berpikir beberapa kondisi medis tertentu, obat-obatan dan genetika mungkin memainkan peran terbentuknya penyakit jantung bawaan.
Faktor resiko penyakit jantung bawaan
Beberapa faktor risiko seperti lingkungan dan genetik mungkin memainkan peran terbentuknya cacat jantung bawaan. Faktor resiko tersebut adalah :
 Campak jerman (Rubella). Jika ibu yang sedang hamil menderita rubella, ini dapat mempengaruhi perkembangan jantung janin.
 Diabetes. Jika ibu yang sedang hamil menderita diabetes tipe 1 atau tipe 2, mungkin akan mengganggu perkembangan jantung janin. Diabetes Gestational umumnya tidak meningkatkan risiko terbentuknya cacat jantung bawaan.
 Obat-obatan. Minum obat tertentu saat hamil telah diketahui menyebabkan cacat lahir, termasuk cacat jantung bawaan. Minum alkohol saat hamil juga dapat berkontribusi terhadap risiko cacat jantung.
 Keturunan. Penyakit jantung bawaan muncul dalam keluarga yang berhubungan dengan banyak sindrom genetik. Lebih dari sepertiga anak-anak dengan sindrom Down – yang disebabkan oleh kromosom 21 ekstra ( trisomi 21) – memiliki cacat jantung.
C. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis PDA pada bayi prematur sering disamarkan oleh masalah-masalah lain yang berhubungan dengan prematur (misalnya sindrom gawat nafas). Tanda-tanda kelebihan beban ventrikel tidak terlihat selama 4 – 6 jam sesudah lahir. Bayi dengan PDA kecil mungkin asimptomatik, bayi dengan PDA lebih besar dapat menunjukkan tanda-tanda gagal jantung kongestif (CHF)
 Kadang-kadang terdapat tanda-tanda gagal jantung
 Machinery mur-mur persisten (sistolik, kemudian menetap, paling nyata terdengar di tepi sternum kiri atas)
 Tekanan nadi besar (water hammer pulses) / Nadi menonjol dan meloncat-loncat, Tekanan nadi yang lebar (lebih dari 25 mm Hg)
 Takhikardia (denyut apeks lebih dari 170), ujung jari hiperemik
 Resiko endokarditis dan obstruksi pembuluh darah pulmonal.
 Infeksi saluran nafas berulang, mudah lelah
 Apnea
 Tachypnea
 Nasal flaring
 Retraksi dada
 Hipoksemia
 Peningkatan kebutuhan ventilator
VSD (Ventrikel Septum Defek) : Adalah adanya defek pada ventrikel, menyebabkan tekanan ventrikel kiri meningkat dan resistensi sirkulasi arteri sistemik lebih tinggi dibandingkan dengan resistensipulmonalmelaluidefekseptum.Volume darah di paru akan meningkat dan terjadi resistensi pembuluh darah paru. Dengan demikian tekanan ventrikel kanan meningkat akibat adanya shunting dari kiri ke kanan. Hal ini akan menyebabkan resiko endokarditis dan mengakibatkan terjadinya hipertrophi otot ventrikel kanan sehingga akan berdampak pada peningkatan workload sehingga atrium kanan tidak dapat mengimbangi meningkatnya workload, maka terjadilah pembesaran atrium kanan untuk mengatasi resistensi yang disebabkan oleh pengosongan atrium yang tidak sempurna
Klasifikasi Umum Penyakit Jantung Bawaan

No. Jenis Defek Nama Penyakit
1. Defek septum Ventricular Septal Defect (VSD)
Atrial Septal Defect (ASD)
Atrioventricular Septal Defect (AVSD)
2. Abnormalitas pembuluh darah dan katup Patent Ductus Arteriosus (PDA)
Stenosis Pulmoner
Aortic Stenosis
Coarctation of the Aorta (CoA)
Mitral Stenosis
Ebstein’s Anomaly

3. Abnormalitas koneksi Transposition of Great Arteries (TGA)
Total Anomalous Pulmonary Venous Drainage (TAPVD)
4. Lesi obstruktif Tetralogy of Fallot
Tricuspid Atresia
Pulmonary Atresia
Hypoplastic Left Heart
Hypoplastic Right Heart
5. Complex Truncus Arteriosus
Double-Outlet Right or Left Ventricle
Single Ventricle

D. PATHOFISIOLOGI
VSD (Ventrikel Septum Defek) : Adanya defek pada ventrikel, menyebabkan tekanan ventrikel kiri meningkat dan resistensi sirkulasi arteri sistemik lebih tinggi dibandingkan dengan resistensi pulmonal melalui defek septum.
Volume darah di paru akan meningkat dan terjadi resistensi pembuluh darah paru. Dengan demikian tekanan ventrikel kanan meningkat akibat adanya shunting dari kiri ke kanan. Hal ini akan menyebabkan resiko endokarditis dan mengakibatkan terjadinya hipertrophi otot ventrikel kanan sehingga akan berdampak pada peningkatan workload sehingga atrium kanan tidak dapat mengimbangi meningkatnya workload, maka terjadilah pembesaran atrium kanan untuk mengatasi resistensi yang disebabkan oleh pengosongan atriumyangtidaksempurna.
WOC. Darah dari atrium kiri msuk ke atrium kanan kibat adanya defek

Terjadi peningkatan beban pada ventrikel
kanan, arteri pulmonalis, kapiler paru, dan
atrium kanan


Tahanan arteri pulmonalis meningkat


Perbedaan tekanan ventrikel kanan dan
arteri pulmonalis


Bising sistolik
KETERANGAN :
A : AORTA
B : VENA CAVA







A B




















VENA PULMONALIS ARTERI PULMONALIS



E. KOMPLIKASI
 Endokarditis
 Obstruksi pembuluh darah pulmonal
 CHF
 Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur)
 Enterokolitis nekrosis
 Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas atau displasia bronkkopulmoner)
 Perdarahan gastrointestinal (GI), penurunan jumlah trombosit
 Hiperkalemia (penurunan keluaran urin.
 Aritmia
 Gagal tumbuh
Dengan demikian kedua sirkulasi (pulmonal dan sistemik) terpisah. Penderita hanya dapat hidup jika terdapat hubungan antara dua sirkulasi tersebut. Pada bayi foramen ovale danduktusarteriosusmasihterbuka.
Gejala klinis yang terlihat pada bayi setelah lahir adalah sianosis. Mula-mula ringan, lalu sianosis bertambah pada hari-hari berikutnya. Bunyi jantung I terdengar normal, dan bunyi jantung II terdengan tunggal dan keras. Bising biasanya tidak terdengar, kecuali terdapat kelainan lain. Foto toraks menujukkan peningkatan vaskularisasi paru (plethora) dengan jantungsepertitelur(eggshaped).
F. PENATALAKSANAAN MEDIS
• Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan bemberian obat-obatan : Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskular, Pemberian indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus, pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis bakterial.
• Pembedahan : Pemotongan atau pengikatan duktus.
• Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu kateterisasi jantung.

ASD(ArtrialSeptumDefek) :
1 ASD kecil (diameter < 5 mm) karena tidak menyebabkan gangguan hemodinamik dan bahayaendokarditisinfeksi,tidakperludilakukanoperasi.2 ASD besar (diameter > 5 mm s/d beberapa centimeter), perlu tindaklan pembedahan dianjurkan < 6 tahun, karena dapat menyebabkan hipertensi pulmonal (walaupun lambat)
3 Pembedahan:menutupdefekdengankateterisasjantung VSD(venrikelseptaldefek) :
Pembedahan yang dilakukan untuk memperpanjang umur harapan hidup, dilakukapadaumurmuda,yaitudengan2cara :
•Pembedahan:menutupdefekdengandijahitmelaluicardiopulmonalbypass
•Nonpembedahan:menutupdefekdenganalatmelalukateterisasjantung
a. Gejala dan tanda penyakit jantung bawaan
 Gejala atau tanda – tanda penyakit jantung bawaan yang mungkin muncul pada penyakit jantung bawaan adalah :
 Irama jantung yang abnormal (aritmia)
 Sebuah warna kebiruan pada kulit (sianosis)
 Sesak napas
 Mudah atau cepat lelah
 Pusing atau pingsan
 Pembengkakan jaringan tubuh atau organ (edema)
Gejala klinis penderita Anomali Ebstein pada hari-hari pertama sesudah lahir adalah sianosis yang dapat bervariasi dari yang ringan sampai sangat berat. Sianosis pada bayi berkurang bila tekanan paru menurun, tetapi kemudian penderita terlihat menjadi sianotik lagi.
Pada auskultasi terdengar “splittting” pada bunyi jantung II dan dapat terdengar pula bunyi jantung IV. Bising biasanya tidak terdengar, tetapi bila terdapat insufisiensi triskuspid maka dapat terdengan bising sistoloik pada garis parasternal kiri. Foto toraks menunjukkan kardiomegali hebat (global heart) karena dilatasi atrium kanan, selain itu terlihat vaskularisasi paru menurun (oligemik). Elektrokardiogram menunjukkan sumbu QRS deviasi ke kanan atau normal dengan gelombang P yang anak besar (giant P waves) dan dapat pula ditemukan gambaran “Right Bundle Branch Block (RBBB)”. Selain itu dapat ditemukan pula sindroma “Wolf-Parkinson-White”, pemanjangan interval P-R lebih jarang. Pemeriksaan ekokardiografi akan memperkuat diagnosis di mana terlihat malposisi katup dan atrium yang besar.
b. Pemeriksaan fisik
Asimptomatik, gambaran diagnosis tidak khas. ASD type sekundum paling sering ditemukan. Keluhan awal : sesak nafas dan rasa capek, ada takiaritmia atrium.
Ditemukan pulsasi ventrikel kanan pada parasternal kanan. Wide fixed splitting bunyi jantung kedua tidak selalu ada. Bising sistolik type ejeksi pada daerah pulmonal pada garis sterna kiri atas. Bising mid diastolic pada daerah tricuspid, dapat menyebar ke apeks. Bunyi jantung kedua mengeras di daerah pulmonal, karena kenaikan tekanan pulmonal. Bising-bising pada ASD ini bising fungsional. Karena beban volume yang besar pada bagian jantung di kanan. Sianosis jarang ditemukan kecuali : defek besar (common atrium), defek sinus koronarius, kelainan vascular paru, stenosis pulmonal, atau ada disertai anomaly ebstein
c. Diagnosa penyakit jantung bawaan
Diagnosa penyakit jantung bawaan dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik dan beberapa prosedur tes tambahan untuk mendiagnosa penyakit jantung bawaan. Prosedur dan tes tambahan meliputi :
• Elektrokardiogram (EKG) . Tes ini mencatat aktivitas listrik jantung. Beberapa cacat jantung bisa mengganggu sinyal-sinyal listrik di dalam jantung, yang pada gilirannya menyebabkan irama jantung abnormal yang disebut aritmia.
• Sinar X – ray. X -ray membantu dokter untuk menilai kondisi jantung dan paru-paru .
• Echocardiogram. Echocardiogram dapat menghasilkan gambar dari jantung. Dokter dapat menggunakan gambar-gambar ini untuk mengidentifikasi kelainan jantung.
• Test treadmill. Sebuah tes treadmill dapat dilakukan untuk memeriksa tingkat keseluruhan kondisi dan aktivitas listrik jantung, detak jantung dan tekanan darah selama latihan.

Dipengaruhi faktor keluhan, umur, ukuran, dan anatomi defek, ada kelainan yang menyertai, tekanan arteri pulmonal, serta resistensi vascular paru.
Indikasi penutupan ASD : pembesaran janutng pada foto toraks, dilatasi ventrikel kanan, kenaikan tekanan arteri pulmonalis 50% atau kurang dari tekanan aorta, tanpa mempertimbangkan keluhan. Prognosis penutupan ASD sangat baik disbanding dengan pengobatan medikamentosa. Pada kelompok umur 40 tahun ke atas harus dipertimbangkan terjadinya aritmia atrial, apalagi bila sebelumnya telah ditemui adanya gangguan irama. Pada kelompok ini perlu dipertimbangkan ablasi perkutan atau ablasi operatif pada saatpenutupan ASD.
Adanya riwayat iskemik transientatau stroke pada ASD atau foramen ovale persisten
Operasi merupakan kontraindikasi bila terjadi kenaikan resistensi vascular paru 7-8 unit, atau ukuran defek kurang dari 8 mm tanpa adanya keluhan dan pembesaran jantung kanan.
Tindakan penutupan dapat dilakukan dengan operasi terutama untuk defek yang sangat besaar lebih dari 40 mm, atau type ASD selain type sekundum.
Untuk ASD sekundum, dengan ukuran defek lebih kecil dari 40 mm harus dipertimbangkan penutupan dengan kateter dengan menggunakan Amplatzer Septal Occlude (ASO). Masih dibutuhkan evaluasi jangka panjang untuk menetukan kejadian aritmia dan komplikasi tromboemboli.
d. Pengobatan penyakit jantung bawaan
Karena penyakit jantung bawaan bisa ringan atau berat, pilihan pengobatan dapat bervariasi. Dokter mungkin akan menyarankan pengobatan untuk mencoba memperbaiki cacat jantung atau mengobati komplikasi yang disebabkan oleh cacat jantung. Dokter dapat merekomendasikan pengobatan meliputi yang meliputi :
• Pemeriksaan reguler. Cacat jantung yang relatif kecil mungkin hanya membutuhkan pemeriksaan berkala oleh dokter untuk memastikan kondisi tidak memburuk.
• Obat-obatan. Beberapa cacat jantung bawaan ringan dapat diobati dengan obat yang membantu jantung bekerja lebih efisien.
• Prosedur khusus menggunakan kateter. Beberapa cacat jantung bawaan dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik kateterisasi, yang memungkinkan perbaikan yang akan dilakukan tanpa operasi membuka dada dan jantung.
• Operasi terbuka jantung. Jika prosedur kateter tidak cukup untuk memperbaiki cacat jantung, dokter dapat merekomendasikan operasi jantung terbuka. Operasi ini adalah prosedur medis utama dan mungkin memerlukan waktu pemulihan yang lama .
• Transplantasi jantung. Jika cacat jantung yang serius tidak dapat diperbaiki, transplantasi jantung mungkin menjadi pilihan.







BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
a. Identitas Klien
b. Riwayat Kesehatan
 Riwayat keperawatan : respon fisiologis terhadap defek (sianosis, aktivitas terbatas)
 Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung, nafas cepat, sesak nafas, retraksi, bunyi jantung tambahan (machinery mur-mur), edera tungkai, hepatomegali.
 Kaji adanya hipoksia kronis : Clubbing finger
 Kaji adanya hiperemia pada ujung jari
 Kaji pola makan, pola pertambahan berat badan
 Pengkajian psikososial meliputi : usia anak, tugas perkembangan anak, koping yang digunakan, kebiasaan anak, respon keluarga terhadap penyakit anak, koping keluarga dan penyesuaian keluarga terhadap stress
c. Pemerksaan Fisik
 Lakukan pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan yang mendetail terhadap jantung.
 Lakukan pengukuran tanda-tanda vital.
 Kaji tampilan umum, perilaku, dan fungsi:
1. Inspeksi :
 Status nutrisi
 Gagal tumbuh atau penambahan berat badan yang buruk berhubungan dengan penyakit jantung.
 Warna – Sianosis adalah gambaran umum dari penyakit jantung kongenital, sedangkan pucat berhubungan dengan anemia, yang sering menyertai penyakit jantung.
 Deformitas dada – Pembesaran jantung terkadang mengubah konfigurasi dada.
 Pulsasi tidak umum – Terkadang terjadi pulsasi yang dapat dilihat.
 Ekskursi pernapasan – Pernapasan mudah atau sulit (mis; takipnea, dispnea, adanya dengkur ekspirasi).
Jari tabuh – Berhubungan dengan beberapa type penyakit jantung kongenital.
 Perilaku – Memilih posisi lutut dada atau berjongkok merupakan ciri khas dari beberapa jenis penyakit jantung.
2. Palpasi dan perkusi :
 Dada – Membantu melihat perbedaan antara ukuran jantung dan karakteristik lain (seperti thrill-vibrilasi yang dirasakan pemeriksa saat mampalpasi)
 Abdomen – Hepatomegali dan/atau splenomegali mungkin terlihat.
 Nadi perifer – Frekwensi, keteraturan, dan amplitudo (kekuatan) dapat menunjukkan ketidaksesuaian.
3. Auskultasi
 Jantung – Mendeteksi adanya murmur jantung.
 Frekwensi dan irama jantung – Menunjukkan deviasi bunyi dan intensitas jantung yang membantu melokalisasi defek jantung.
 Paru-paru – Menunjukkan ronki kering kasar, mengi.
 Tekanan darah – Penyimpangan terjadi dibeberapa kondisi jantung (mis; ketidaksesuaian antara ekstremitas atas dan bawah)
 Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian – mis; ekg, radiografi, ekokardiografi, fluoroskopi, ultrasonografi, angiografi, analisis darah (jumlah darah, haemoglobin, volume sel darah, gas darah), kateterisasi jantung.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur.
Tujuan : Klienakanmenunjukkanperbaikancurahjantung.
Kriteriahasil :
a. Frekwensi jantung, tekanan darah, dan perfusi perifer berada pada batas normal sesuai usia.
b. Keluaran urine adekuat (antara 0,5–2 ml/kgbb, bergantung pada usia )
Intervensikeperawatan/rasional
e. Beri digoksin sesuai program, dengan menggunakan kewaspadaan yang dibuat untuk mencegahtoxisitas.
f. Beriobatpenurunafterloadsesuaiprogram
g. Beri diuretik sesuai program
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen
Tujuan : Klienmempertahankan tingkat energi yang adekuat tanpa stress tambahan.
Kriteriahasil:
a. Anak menentukan dan melakukan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan.
b. Anakmendapatkanwaktuistirahat/tiduryangtepat.
Intervensikeperawatan/rasional
a. Berikan periode istirahat yang sering dan periode tidur tanpa gangguan
b. .Anjurkanpermainandanaktivitasyangtenang.
c. Bantu anak memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi, dan kemampuan.
d. Hindari suhu lingkungan yang ekstrem karena hipertermia atau hipotermia meningkatkan kebutuhan oksigen.
e. Implementasikan tindakan untuk menurunkan ansietas.
f. Berespons dengan segera terhadap tangisan atau ekspresi lain dari distress.
3. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi sosial.
Tujuan : Pasien mengikuti kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan.
Anak mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang sesuai denganusia
Kriteriahasil: a. Anakmencapaipertumbuhanyangadekuat.
b. Anakmelakukanaktivitassesuaiusia
c. Anak tidak mengalami isolasi sosial
 IntervensiKeperawatan/rasional
a. Beri diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat.
b. Pantau tinggi dan berat badan; gambarkan pada grafik pertumbuhan untuk menentukan kecenderunganpertumbuhan.
c. Dapat memberikan suplemen besi untuk mengatasi anemia, bila dianjurkan.
d. Dorongaktivitasyangsesuaiusia.
e. Tekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama terhadap sosialisasi seperti anakyanglain.
f. Izinkan anak untuk menata ruangnya sendiri dan batasan aktivitas karena anak akan beristirahat bila lelah.
4. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah.
TujuanKlientidakmenunjukkanbukti-buktiinfeksi
Kriteriahasi:Anakbebasdariinfeksi.
IntervensiKeperawatan/rasional
a. Hindarikontakdenganindividuyangterinfeksi
b. Beriistirahatyangadekuat
c. Beri nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan tubuh alami.

download dalam format word : download

0 komentar:

Poskan Komentar